
Ilmuwan AS mengatakan asteroid yang meledak di Bone Sulawesi kekuatannya tiga kali energi bom Hiroshima. Ledakan itu menghidupkan kembali pentingnya pertahanan dari benda ruang angkasa.
Pada 8 Oktober, batu luar angkasa jatuh ke atmosfer di atas Sulawesi Selatan. Ledakan itu terdengar dari monitor yang jaraknya 10.000 mil, menurut laporan ilmuwan di University of Western Ontario.
Ilmuwan khawatir kedatangan obyek itu tidak terlihat oleh teleskop dan jika lebih besar maka bisa menimbulkan malapetaka besar.
Asteroid itu diperkirakan besarnya 10 meter dan masuk atmosfer dengan kecepatan 45.000 mph. Perlambatan yang tiba-tiba menyebabkan pemanasan cepat dan ledakan dengan kekuatan setara 50.000 ton TNT.
Untungnya, karena ketinggian ledakan yang diperkirakan 15 hingga 20 km di atas permukaan laut, tidak menyebabkan kerusakan di tanah.
Namun, jika obyek sedikit lebih besar 20 hingga 30 meter bisa dengan mudah menyebabkan kerusakan dan korban jiwa, kata para peneliti.
Hanya sedikit benda yang lebih kecil dari 100 meter telah diamati dan masuk katalog para astronom.
Tim Spahr, direktur Minor Planet Center di Cambridge, Massachusetts, memperingatkan tak terelakkan asteroid kecil bisa masuk bumi tanpa diketahui. "Jika Anda ingin menemukan benda terkecil, maka harus membangun teleskop lebih banyak dan lebih besar. Sebuah survei menemukan obyek lebih dari 20 meter bisa menyebabkan kerusakan hingga miliaran dolar.”
Bola api ditemukan oleh penduduk setempat dan sebuah video YouTube menunjukkan awan debu yang besar konsisten dengan bola api siang hari yang cerah, menurut para peneliti Ontario.
Asteroid atau pecahan komet berukuran 60 meter yang diyakini sebagai penyebab peristiwa Tunguska yang berupa ledakan hebat di atas Rusia pada 1908. Ledakan itu diperkirakan setara dengan 10-15 juta ton TNT, cukup untuk menghancurkan sebuah kota besar.
Gedung Putih baru akan mengeluarkan kebijakan menyangkut dampak obyek ruang angkasa pada bulan Oktober tahun depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar